Rabu, 25 Februari 2009

Surat dari Palestina ( poem )

Malam itu adalah malam ketika hujan tak lagi berbentuk air, yg biasa membasahi tempat tidurku karena atap rumah yg bocor.
Malam itu benda sejenis kometlah yg menjadi hujan.
Indah memang.
Tapi aku tak tahan Mendengar pekikkan suaranya..

Pagi itu pun tak ada ayam yg berkokok, membangunkan manusia.
Lagi- lagi hujan komet itu yg membangunkanku dr mimpi.
Ku buka jendela, semua bangunan rata dg tanah.
Kemana rumah kawan - kawanku ?

Lalu, aku teringat dg ayah yg tak pulang semalaman.
Ayah berjanji akan mmebawakan kejutan bila ia menang.
Tapi kemana ayah semalam ?
Apa yg dilakukannya ?
Tak tukah ia dengan suara ledakan seperti dineraka ini ?

Perutku yg kosong berbunyi.
Ibu datang membawakanku segelas susu sisa kemarin, yg entah bagaimana rasanya.
Tapiaku harus meminumnya demi perutku yg tipis.
Agar terasa enak, aku meminumnya sambil membayangkan kira - kira apa yg akan dibawakan ayah..

Tak lama ayah pulang.
namun, mengapa tubuhnya terbujur dan dibungkus oleh kain putih yg bercorak kemerahan ?
Dan , mengapa ibu menangis tersedu - sedu melihat kepulangan ayah ?
Mungkin ibu tak dapat kejutan dari ayah.
Lalu, mana kejutan untuk ku ?
Oh, mingkin pistol - pstolan yg digenggemnya ini.
Inilah pertama kalinya aku memiliki sebuah pistol - pistolan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar